Hypocrite!
Hypocrite!
Munafik!
Kata yang keras, sangat keras sebenarnya. Kata yang benar-benar dalam. Kata yang benar-benar dapat membuka mata seolah menjadi alarm. Kata ini sebenarnya salah satu kata yang paling aku benci. Karena selain keras itu, orang yang dilabeli dengan kata ini sendiri sangat tidak dapat dipercaya, salah satu kriteria aku membenci seseorang. Hypocrite atau dalam bahasa Indonesia adalah munafik adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berkelakuan tidak sesuai dengan apa yang ia sendiri katakan (lihat gambar di atas). Sederhananya begini, jika kamu mengatakan bahwa daging itu sebenarnya buruk dan seharusnya kita tidak memakannya, itu menarik. Namun yang membuatnya tidak menarik adalah saat kami tahu kamu ternyata memiliki pabrik daging sendiri, menjual, bahkan memakan daging itu. Agak aneh, tapi ada.
Aku sendiri belakangan ini merasa bahwa aku adalah orang yang munafik. Jujur saja, di masa saat suatu virus, yang disebut sebagai Virus Korona ini, aku merasa agak sedikit berubah. Tekanan untuk tetap bekerja di dalam rumah (walau aku sebenarnya seorang introvert, walau tidak 100%) membuat otakku kadang tidak mau menghitung atau mengerjakan sesuatu. Gila, mungkin. Tapi aku tidak dapat mengatakannya sebagai gila, karena aku sudah pada fase itu sejak menginjak kelas sekolah dasar.
Ok, kembali lagi. Sebenarnya, tidak ada... Sebentar. BELUM ada orang yang benar-benar mengatakan bahwa aku munafik. Entah itu melalui gosip maupun langsung di depan mataku dimana kata-kata itu dapat langsung terbang ke kupingku dan diterjemahkan menjadi aliran listrik yang dimengerti otak dan.... INTINYA, belum ada. Namun, diriku sendiri yang mengatakan bahwa aku munafik. Diriku yang lain.
Seperti yang saya katakan tadi, saya menulis ini di masa dimana Virus Korona (atau Coronavirus) masih dengan ganasnya menyerang Indonesia tercinta. Negara yang benar-benar kaya, namun memiliki penduduk yang perlu banyak diedukasi. Karena itu, pemerintah memberikan berbagai instruksi untuk mengurangi penyebaran virus ini, salah satunya adalah untuk dapat bekerja di rumah. Oleh karena itu, banyak kantor dan sekolah yang mengharuskan siswa atau pekerjanya bekerja dan belajar dari rumah secara daring. Sederhananya, penjara kita menjadi lebih kecil karena area nya sendiri hanya sekitaran rumah, tidak lagi berjarak seperti rumah dan kantor atau sekolah, dan sebagainya.
Mendengar instruksi seperti itu, banyak siswa dari kampus ku, Sampoerna University, yang kembali ke kampung halaman masing-masing. Bukan, kebanyakan dari mereka bukan kembali karena menganggap ini adalah liburan yang dipercepat. Bukan. Sebagian besar dari mereka saat kutanyai mengapa ingin pulang adalah karena orang tua mereka. Ya, apa yang dapat kalian katakan saat orang tua kalian menginstruksikan sesuatu? Instruksi pemerintah pun dapat dilawan. Aku, jujur, saat itu merasa bahwa mereka bisa saja malah menyebarkan virus itu ke kampung halaman mereka karena sebelumnya berada di Jakarta (yang merupakan lokasi kasus terbesar virus korona di Indonesia, saat artikel ini dibuat). Karena itu, aku beberapa kali seperti memunggah gambar yang mengatakan bahwa sebaiknya kalian tidak kembali, sebaiknya kalian diam di kamar, dan sebaiknya kalian mengikuti instruksi pemerintah. Tapi, apa yang dapat kujadikan senjata yang kuat? Aku tidak punya nama dan jabatan. Aku pun tidak berhak untuk mewajibkan mereka dan melawan orang tua mereka. Banyak yang tetap pulang. Tidak apa, aku akan mencoba bertahan di Jakarta.
Dua minggu berlalu, suatu surel dari kampus ku mengatakan bahwa proses belajar dari rumah diperpanjang hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Aku jujur kecewa dengan kata-kata "belum dapat ditentukan hingga kapan." Tapi salah satu kakak kelasku menyadarkan ku bahwa memang kita tidak dapat mengontrol kapan virus ini akan hilang. Pemerintah saja hanya mengira-ngira, bahkan belum pasti hingga kapan akan diberlakukan aktivitas ini, apalagi kampus. Aku saat itu sudah mulai goyah, apakah aku harus kembali?
Beberapa temanku menyarankanku untuk kembali.
"Kamu ntar makan apa emang?" Kata yang kurasa cukup perhatian dari seorang perempuan yang tidak terlihat terlalu perhatian. "Mending balik aja deh."
Aku menerima saran itu dan mengatakan bahwa aku akan memikirkannya.
"Niko, mending balik aja deh, kalo misalnya bisa balik. Mama mulai khawatir Niko disana. Mama gak bisa pantau ntar Niko gimana disana bertahannya. Balik aja kalo bisa,"
Ya, kira-kira begitu tulisan dari ibuku yang berada di rumah yang ia kirimkan melalui pesan singkat WhatsApp. Apa yang dapat ku perbuat? Haruskah aku pulang? Aku mencoba membuat ibuku setuju agar aku tetap dapat berada di Jakarta dengan beralasan bahwa mungkin liburnya hanya satu minggu (yang akhirnya terlihat sangat beresiko untuk kembali pulang). Tidak, itu tidak benar-benar berhasil. Setiap hari ibuku mengirimkan pesan. Ia mencari informasi dan mengatakan bahwa sebaiknya aku pulang. Salah satu 'ancaman' yang ia berikan sebagai berikut.
"Pemerintah udah mulai mau rapat dan mau memberikan payung hukum untuk lakukan karantina bahkan mungkin lockdown Jakarta. Kamu mending pulang cepet daripada gak bisa balik sama sekali."
Ancaman yang sangat pintar ma, untuk aku yang tidak mengikuti dunia politik seperti itu. Apa yang dapat aku katakan? Aku tidak punya alasan lain untuk tidak pergi. Itu artinya, aku harus melanggar 'instruksi' yang aku sebarkan sendiri: "untuk diam di rumah dan tidak kembali ke kampung halaman."
Dari situ, salah satu diriku mengatakan bahwa aku adalah seorang munafik. "Hypocrite!" Keras, saat dirimu sendiri mengatai dirimu sendiri bahwa kamu buruk, itu rasanya lebih sakit dibandingkan jika orang lain mengatakan hal yang sama.
Aku sudah tdak dapat berpikir. Aku membeli tiket kepulangan ku ke Lombok dan memberitahu ibuku. Ia menginstruksikan hal-hal yang aku harus lakukan sebelum, saat, dan sesudah kepulangan, khususnya di perjalanan. I personally, really appreciate that. That's means a lot since I feel that they care about my health. But again, bahkan sampai sekarang, saat aku menulis ini, aku kadang berpikir bahwa aku masih seorang munafik, hypocrite. Sangat berat. Namun, perkataan orang tua, apa yang dapat ku lakukan?
Untuk itu, mungkin melalui ini, aku ingin meminta maaf kepada teman-temanku dan diriku sendiri bahwa aku sudah munafik dan tidak memikirkan lebih jauh tentang apa yang akan aku katakan dan bagikan. Aku benar-benar minta maaf untuk itu.
Oh ya, berita kepulangan ini pun aku coba untuk diketahui sesedikit mungkin orang. Karena, sekali lagi. Aku merasa malu dan bersalah atas omonganku sendiri. Dan sekali lagi, aku minta maaf untuk itu.
Thank you for reading all of the article, hope you enjoy it! Stay safe, everyone (if someone read this). We can do it together! We can survive this pandemic! Stay safe, stay healthy. Love you!
Munafik!
Kata yang keras, sangat keras sebenarnya. Kata yang benar-benar dalam. Kata yang benar-benar dapat membuka mata seolah menjadi alarm. Kata ini sebenarnya salah satu kata yang paling aku benci. Karena selain keras itu, orang yang dilabeli dengan kata ini sendiri sangat tidak dapat dipercaya, salah satu kriteria aku membenci seseorang. Hypocrite atau dalam bahasa Indonesia adalah munafik adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berkelakuan tidak sesuai dengan apa yang ia sendiri katakan (lihat gambar di atas). Sederhananya begini, jika kamu mengatakan bahwa daging itu sebenarnya buruk dan seharusnya kita tidak memakannya, itu menarik. Namun yang membuatnya tidak menarik adalah saat kami tahu kamu ternyata memiliki pabrik daging sendiri, menjual, bahkan memakan daging itu. Agak aneh, tapi ada.
Aku sendiri belakangan ini merasa bahwa aku adalah orang yang munafik. Jujur saja, di masa saat suatu virus, yang disebut sebagai Virus Korona ini, aku merasa agak sedikit berubah. Tekanan untuk tetap bekerja di dalam rumah (walau aku sebenarnya seorang introvert, walau tidak 100%) membuat otakku kadang tidak mau menghitung atau mengerjakan sesuatu. Gila, mungkin. Tapi aku tidak dapat mengatakannya sebagai gila, karena aku sudah pada fase itu sejak menginjak kelas sekolah dasar.
Ok, kembali lagi. Sebenarnya, tidak ada... Sebentar. BELUM ada orang yang benar-benar mengatakan bahwa aku munafik. Entah itu melalui gosip maupun langsung di depan mataku dimana kata-kata itu dapat langsung terbang ke kupingku dan diterjemahkan menjadi aliran listrik yang dimengerti otak dan.... INTINYA, belum ada. Namun, diriku sendiri yang mengatakan bahwa aku munafik. Diriku yang lain.
Seperti yang saya katakan tadi, saya menulis ini di masa dimana Virus Korona (atau Coronavirus) masih dengan ganasnya menyerang Indonesia tercinta. Negara yang benar-benar kaya, namun memiliki penduduk yang perlu banyak diedukasi. Karena itu, pemerintah memberikan berbagai instruksi untuk mengurangi penyebaran virus ini, salah satunya adalah untuk dapat bekerja di rumah. Oleh karena itu, banyak kantor dan sekolah yang mengharuskan siswa atau pekerjanya bekerja dan belajar dari rumah secara daring. Sederhananya, penjara kita menjadi lebih kecil karena area nya sendiri hanya sekitaran rumah, tidak lagi berjarak seperti rumah dan kantor atau sekolah, dan sebagainya.
Mendengar instruksi seperti itu, banyak siswa dari kampus ku, Sampoerna University, yang kembali ke kampung halaman masing-masing. Bukan, kebanyakan dari mereka bukan kembali karena menganggap ini adalah liburan yang dipercepat. Bukan. Sebagian besar dari mereka saat kutanyai mengapa ingin pulang adalah karena orang tua mereka. Ya, apa yang dapat kalian katakan saat orang tua kalian menginstruksikan sesuatu? Instruksi pemerintah pun dapat dilawan. Aku, jujur, saat itu merasa bahwa mereka bisa saja malah menyebarkan virus itu ke kampung halaman mereka karena sebelumnya berada di Jakarta (yang merupakan lokasi kasus terbesar virus korona di Indonesia, saat artikel ini dibuat). Karena itu, aku beberapa kali seperti memunggah gambar yang mengatakan bahwa sebaiknya kalian tidak kembali, sebaiknya kalian diam di kamar, dan sebaiknya kalian mengikuti instruksi pemerintah. Tapi, apa yang dapat kujadikan senjata yang kuat? Aku tidak punya nama dan jabatan. Aku pun tidak berhak untuk mewajibkan mereka dan melawan orang tua mereka. Banyak yang tetap pulang. Tidak apa, aku akan mencoba bertahan di Jakarta.
Dua minggu berlalu, suatu surel dari kampus ku mengatakan bahwa proses belajar dari rumah diperpanjang hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Aku jujur kecewa dengan kata-kata "belum dapat ditentukan hingga kapan." Tapi salah satu kakak kelasku menyadarkan ku bahwa memang kita tidak dapat mengontrol kapan virus ini akan hilang. Pemerintah saja hanya mengira-ngira, bahkan belum pasti hingga kapan akan diberlakukan aktivitas ini, apalagi kampus. Aku saat itu sudah mulai goyah, apakah aku harus kembali?
Beberapa temanku menyarankanku untuk kembali.
"Kamu ntar makan apa emang?" Kata yang kurasa cukup perhatian dari seorang perempuan yang tidak terlihat terlalu perhatian. "Mending balik aja deh."
Aku menerima saran itu dan mengatakan bahwa aku akan memikirkannya.
"Niko, mending balik aja deh, kalo misalnya bisa balik. Mama mulai khawatir Niko disana. Mama gak bisa pantau ntar Niko gimana disana bertahannya. Balik aja kalo bisa,"
Ya, kira-kira begitu tulisan dari ibuku yang berada di rumah yang ia kirimkan melalui pesan singkat WhatsApp. Apa yang dapat ku perbuat? Haruskah aku pulang? Aku mencoba membuat ibuku setuju agar aku tetap dapat berada di Jakarta dengan beralasan bahwa mungkin liburnya hanya satu minggu (yang akhirnya terlihat sangat beresiko untuk kembali pulang). Tidak, itu tidak benar-benar berhasil. Setiap hari ibuku mengirimkan pesan. Ia mencari informasi dan mengatakan bahwa sebaiknya aku pulang. Salah satu 'ancaman' yang ia berikan sebagai berikut.
"Pemerintah udah mulai mau rapat dan mau memberikan payung hukum untuk lakukan karantina bahkan mungkin lockdown Jakarta. Kamu mending pulang cepet daripada gak bisa balik sama sekali."
Ancaman yang sangat pintar ma, untuk aku yang tidak mengikuti dunia politik seperti itu. Apa yang dapat aku katakan? Aku tidak punya alasan lain untuk tidak pergi. Itu artinya, aku harus melanggar 'instruksi' yang aku sebarkan sendiri: "untuk diam di rumah dan tidak kembali ke kampung halaman."
Dari situ, salah satu diriku mengatakan bahwa aku adalah seorang munafik. "Hypocrite!" Keras, saat dirimu sendiri mengatai dirimu sendiri bahwa kamu buruk, itu rasanya lebih sakit dibandingkan jika orang lain mengatakan hal yang sama.
Aku sudah tdak dapat berpikir. Aku membeli tiket kepulangan ku ke Lombok dan memberitahu ibuku. Ia menginstruksikan hal-hal yang aku harus lakukan sebelum, saat, dan sesudah kepulangan, khususnya di perjalanan. I personally, really appreciate that. That's means a lot since I feel that they care about my health. But again, bahkan sampai sekarang, saat aku menulis ini, aku kadang berpikir bahwa aku masih seorang munafik, hypocrite. Sangat berat. Namun, perkataan orang tua, apa yang dapat ku lakukan?
Untuk itu, mungkin melalui ini, aku ingin meminta maaf kepada teman-temanku dan diriku sendiri bahwa aku sudah munafik dan tidak memikirkan lebih jauh tentang apa yang akan aku katakan dan bagikan. Aku benar-benar minta maaf untuk itu.
Oh ya, berita kepulangan ini pun aku coba untuk diketahui sesedikit mungkin orang. Karena, sekali lagi. Aku merasa malu dan bersalah atas omonganku sendiri. Dan sekali lagi, aku minta maaf untuk itu.
Thank you for reading all of the article, hope you enjoy it! Stay safe, everyone (if someone read this). We can do it together! We can survive this pandemic! Stay safe, stay healthy. Love you!

Komentar
Posting Komentar