Physically Yes, but (Hopefully) Mentally Not.

Dear Olympus.
Ok, ini mungkin jadi tulisan kedua untuk Olympus. Sebuah kelas, sebuah perkumpulan, sebuah keluarga ketiga. Sebuah hal yang 'bersatu' karena kebencian. Sebuah hal yang bersatu karena memiliki rasa yang sama. Ya, aku tidak akan bohong. Kita tidak pernah dekat, di awal. Salah satu hal yang membuat kita seperti ini mungkin, selain ini sudah hampir 2 semester, adalah kebencian itu sendiri. Bukan. Bukan dari internal. Anda tahu? Semua orang pasti tahu. Anggap saja kebanyakan dari mereka membenci kita, bahkan dari jajaran petinggi sekolah.

Namun, mari lupakan itu. Olympus, seperti namanya, yang telah kita ketahui juga merupakan suatu tempat sakral. Tempat sakral, dulunya. Sekarang? Mereka dari jajaran petinggi juga merusaknya. Katanya sih untuk mempermudah. Memang. Memang kita memilih untuk hal yang berbeda. Memang. Tapi, haruskah? Ini tinggal tiga bulan saja. Haruskah kami berlari? Kami selalu berlari. Anda selalu memecut kami jika kami tidak berlari. Ya, seorang 'dewa' punya batasan.

Olympus, sekali lagi merupakan suatu keluarga baru. Sebenarnya ini agak aneh. Trend sejak kami pindah selalu begitu. Entah. Suatu perkumpulan yang mereka sebut sebagai House seperti hampir tidak ada. Lebih banyak tentang kelas. Entah. Bukan kami, bukan kami yang salah. Lingkungan ini yang salah. Bagaimana mereka memberlakukan kami. Bagaimana ia tidak memberikan kami waktu untuk bernafas. Bagaimana ia kembali membuat kami menjadi robot. Ya, seorang 'dewa' punya batasan.

Sombong. Iya, jika Anda dapat mengatakan hal itu, mungkin Anda sudah mengenal kami. Mmm.. Kulit mungkin. Ya, kami sombong. Kami seperti yang Anda pikirkan. Jika dan hanya jika kami bertemu Anda. Untuk apa memperlihatkan bentuk dewa pada manusia? Ya, seorang 'dewa' punya batasan.

Sudah cukup. Sudah cukup untuk itu. Hari ini kita bersenang-senang. Bersenang-senang sebelum kembali disiksa. Ya. Disiksa. Bagaimana mungkin seorang dewa disiksa? Sederhana. Dewa bukan berarti Tuhan. Kamu harus tahu apa itu dewa. Itulah kami. Anggota Olympus.

Olympus, sebagai yang pertama -- dan yang kedua, untukku -- adalah dewa. Ya, kami memiliki kasta masing-masing. Namun seperti Olympus yang lalu. Kami punya peran masing-masing.

Sebulan yang lalu, kami dipisahkan. Kami harus turun pada manusia. Ya. Kami harus menjadi mereka dan bekerja bersama mereka. Berpisah? Sejauh ini belum. Semoga tidak. Ya, aku tahu. Seorang dewa memiliki batasan. Tapi bagaimana jika kami melampauinya. Sebagai yang terlemah, aku percaya aku dapat memaksakan diriku hingga mati. Aku percaya mereka dapat.

Kronus. Ah, suatu hal yang menarik. Kronus benar-benar dipisahkan dari kami. Iya dibuang. Bukan. Bukan oleh kami. Oleh mereka, para petinggi tentunya. Kronus. Salah satu pemimpin non formal kami. Ya. Aku hanya berharap dan berdoa untuknya. Semoga ia tetap menjadi kakek yang baik, di dunia bawah. Bawah? Kurasa tidak sebawah itu. Aku percaya ia dapat melaluinya.

Ah. Kupikir sudah cukup. Ya. Kami punya batasan. Aku hanya mencurahkan semuanya. Salah satu pernah berkata bahwa hari ini mungkin menjadi pelepasan kekuasaan terhadap Olympus. Hari terakhir kami menginjakkan kaki di bukit ini. Aku tentu saja tidak setuju. Physically might be yes, we are divided. But, I believe, mentally not. We are Olympus. C is a Love.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

You Need to STOP!

(Bukan) Cerita Agen

INTRO!