I am Not Normal, Not Like You.

Dear my dearest dear.
Take it serious, take it simple.
Saya pikir sudah lama saya tidak pernah menulis hal seperti ini. Sudah lama sekali saya tidak bercerita tentang diri saya, bukan? Itu katamu. Dan ya, saya percaya itu juga. Buktinya, sekarang ini saya tidak dapat memulainya. Saya lupa cara memulai hal semacam ini. Mmm.. Maapkan.

Apa yang perlu dituliskan? Tidak ada. Tidak ada format yang dipercaya merupakan format yang perlu digunakan untuk surat semacam ini, bukan? Lalu, bagaimana aku akan memulainya? Bagaimana dengan kalimat "saya sudah merasa capek." Bukan, bukan hanya "saya" tapi hampir seluruhnya. Mungkin hanya anak kecil satu itu yang masih mengagumimu. Ia masih mencintaimu sampai sekarang. Ia jarang dapat seorang wanita yang ia percaya. Hanya karena itu. Tapi apa? Kau sering membuatnya menangis dan pergi ke pojokan. Saat salah satu dari kami datang, kau ketakutan. Bagaimana mungkin kau hanya berani pada anak kecil? Ia tidak mengerti apapun. Hanya karena ia lah kami masih mempercayaimu. Entah apa yang telah kau tanamkan hingga ia masih mau menyukaimu. Aku tidak mengerti.

Aku pernah berusaha untuk menjadi anak kecil itu agar mengerti mengapa ia masih mencintaimu. Namun apa? Tidak ada yang berbeda. Dari saat aku melihat dari pojokan sana hingga aku mengendalikan semuanya, aku tidak melihat perbedaan apapun. Aku masih bingung mengapa ia masih mencintaimu. Tidak ada yang dapat aku katakan. Aku tidak ingin membakar semuanya. Itu saja. Anak itu masih menarikku setiap aku ingin membakar semuanya. Aku mencintainya, kami semua mencintainya. Mengapa kau membencinya?

Entahlah, namun pada awalnya memang saya lah yang membawamu kepada kami. Jika mau jujur, saya tidak tahu apa yang spesial darimu. Namun, hari demi hari bersamamu jujur, saya mulai sadar bahwa kamu adalah seorang yang menarik. Ya, kamu adalah orang yang menarik. Selalu menarik. Kamu selalu memberikan berbagai cerita tentang dirimu dan saudara-saudaramu, bahkan dengan teman-temanmu dan bisa dikatakan masa lalumu. Entahlah, saya masih selalu mencoba untuk tegar. "Mungkin ia masih sedih, mungkin dalam beberapa hari ia akan lebih baik," itu lah yang selalu saya pikirkan. Saya selalu berpikir positif. Dari sinilah anak itu lahir. Entahlah, ia selalu mengingatkan saya betapa kamu spesial dan telah sedikit menerangi jalan. Tapi entah kenapa, beberapa kata-kata anak itu kadang tidak dapat dimasukkan ke dalam kehidupan nyata ini. Saya yang memasukkan mu ke dalam sini, tapi saya juga merasa saya melakukan kesalahan. Yah, mungkin kamu butuh waktu.

Apa yang harus aku katakan? Haruskah aku ikut menulis disini? Entah, jujur aku juga bersyukur karena telah lahir. Salah satu hal yang membuat aku ada adalah kamu sendiri sebenarnya. Tapi itu bukan hal yang baik. Hal yang membentukku adalah kamu sendiri dimana aku mengeluarkan sisi gelap itu. Maaf? Aku tidak perlu mengatakannya. Aku pantas mengatakannya, kamu pantas mendapatkannya. Aku tidak menghormati orang dari jenis kelamin, aku menghormati dari apa yang mereka perbuat.

Entah. Saya masih mencitai engkau. Saya lahir dari engkau. Tidak ada yang dapat saya katakan. Saya selalu mencoba untuk menguatkan meleka bahwa engkau adalah orang yang tepat untuk mereka semua. Mereka kadang senang melihat tingkahmu, namun juga marah atau kecewa. Entahlah. Saya memang anak yang cengeng. Tapi saya akan telus coba untuk mengingatkan mereka. Saya masih mencintaimu. ' 3 ' )

Apa lagi? Entahlah mereka semua mungkin telah menuliskan semuanya. Apa yang harus aku katakan? Ku pikir tidak ada lagi. Aku, jujur masih merasa bahwa aku masih memiliki hutang yang harus aku bayar padamu. Tapi, bagaimana? Jujur, aku sudah capek. Aku hanya ingin beristirahat. This fucking time is not just yours, dear. I am not your fucking doll. Please, respect us. Please, just please.

Mmm... Entahlah, saya pikir ini mulai memanas. Maafkan jika ada beberapa yang menyakiti hati. Saya tahu itu mungkin sakit, tapi ketahuilah, ini tidak akan berakhir jika mereka terus memendamnya. Entah lah. Oh ya, just please keep remember that in the past I have said that you only can defeat me by my own words, right? Well, sometimes it works. But, today, Me is not just me. You can't defeat me by my own words. Just can't. So, how you can defeat me? You can't. Just can't, dear. Use your own word, try to think, ok? I gonna try to see if there are some things that keeps us stay. So sorry for that.

C ya, my dearest dear! From all of us.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

You Need to STOP!

(Bukan) Cerita Agen

INTRO!