(Bukan) Cerita Agen
Saat itu, salah satu kakak kelasku
datang ke unit ku. Aku adalah anak asrama dan kakak kelasku yang
satu ini adalah seorang alumni sekolahku juga. Ia lumayan dekat dengan kami
adik kelasnya disini. Saat itu, ia mencoba bermain-main ke dalam unit kami. Walaupun seorang alumni tidak
diperbolehkan untuk masuk ke dalam unit adik kelasnya, ia masih saja bandel mencoba masuk. Dan saat ia mencoba
masuk, memang tidak ada yang mencurigainya dan perjalanannya terlihat lancar
saja.
“Kris, kamu mau turun kah? Boleh minta tolong ambilin tas ku gak? Dia ada
di meja satpam di depan asrama,” kata Kak Fajar, alumni itu kepadaku.
“Oh ya kak, entar saya coba
kasih tasnya,” jawabku.
“Sip!” katanya sambil
mengacungkan jembol ke atas.
Aku keluar dari asrama dan duduk
di suatu ruang multi fungsi. Di sana juga terdapat meja satpam dan di samping
meja satpam tersebut terdapat tas dari alumni sekolahku tersebut. Saat aku
melihat tas biru itu, aku baru teringat untuk mengambilkannya. Tanpa pikir
panjang aku aku langsung meminta izin ke pada satpam yang berjaga saat itu
untuk mengambil tas tersebut.
“Pak, ini tasnya kakak kelas ya?
Pake baju merah tadi yang titipin?” kataku
“Iya, emang kenapa?”
“Nggak pak, tadi saya dimintain
tolong buat ambil tas ini,”
“Dimintain tolong buat ambil tas
ini? Siapa? Kakak kelas ya?”
“iya pak,”
“Alumni kah?”
Dengan reflek aku langsung
menjawab, “iya pak”
“Wajah satpam saat itu langsung
berubah serius. “Dimana dia?”
“Lantai 18 pak,” jawabku yang
saat itu.
Satpam yang berjaga saat itu
langsung mengambil ht-nya lalu berkata kepada salah satu teman satpamnya.
“Monitor pak? Pak, monitor pak,
ada alumni yang datang ke lantai 18,”
Saat mendengar itu, aku langsung
mundur dengan perlahan dan balik kanan. Aku langsung membuka hp dan mengirimkan
pesan Whatsapp ke pada kakak kelasku itu.
“Kak, mending kakak turun
sekarang, atau sembunyi sekarang deh,”
“Someone’s coming!”
Namun saat itu ikon yang
terlihat hanyalah centang satu, yang berarti bahwa pesan tersebut bahkan tidak
masuk ke dalam WhatsApp kakak kelasku itu. Karena agak panik untuk apa yang
akan terjadi pada kakak kelasku itu jika tertangkap, aku langsung mencoba
menelfonnya.
“Nomor yang Anda tuju sedang
tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan...” Tiga kali aku mencoba
menelfonnya, tiga kali pula pesan tersebut terdengar.
Aku semakin panik. Aku mencoba
agak tenang dan berpikir. “Oh ya, Imam ada di deketnya kak Fajar!” pikir ku.
Langsung aku mencob untuk menelfon Imam, teman seangkatanku.
“Tersambung!” Pikirku.
Saat sudah diangkat, aku
langsung bertanya, “Mam, dimana kak Fajar?”
“Gak tahu,” katanya berbisik.
“Duh.. dimana dia? Udah sembunyi
kah?” kataku.
“Gak tahu juga, tapi sekarang
dia gak ada,” katanya.
“Okey, siap, yang penting dia
udah agak aman,” kataku.
Sekitar 2 menit setelah itu, pak
satpam yang tadinya berjaga itu menghampiri ku. Kali ini ia tidak sendiri, ia
membawa dua orang rekannya yang lain.
“Tadi kamu disuruh sama siapa
buat ambil tas itu?” Kata satpam 1.
“Kurang tahu pak, tadi saya di
WA aja,” jawabku mencoba tenang.
“Tapi di WA kan ada kemungkinan
dikasih tahu namanya,” kata satpam 2.
“Gak tahu pak, saya gak simpen
nomornya. Yang keluar cuman nomor,” kataku beralasan.
“Gak ada namanya kah?”
“Gak ada pak, gak saya simpen
nomornya, ya yang keluar cuman nomornya doang lah,” kataku.
“ya udah, entar saya coba tanya
lagi kamu ya?” Kata satpam 1.
Saat 2 satpam itu pergi, satpam
3 hanya melihat ku sambil tersenyum. “Gak apa-apa kok,” katanya. Aku hanya
tersenyum.
Saat itu, Kiara, salah satu
teman perempuanku datang menghampiriku.
“Kenapa?” Tanyanya dengan wajah
bingung.
“Entar tak ceritain,” kataku.
Kami duduk di ruangan itu lalu
aku bercerita sedikit tentang masalah kak Fajar itu. Ia melihatku.
“Trus gimana?”
“Ya gak tahu, itu kenapa
sekarang saya masih cari tahu caranya biar bias ambil tas itu.” Kataku.
Saat itu, tiba-tiba datang salah
satu satpam. Ia memanggilku untuk kembali bertanya sedikit tentang tersangka
yang mengendap-ngendap masuk ke dalam asrama itu.
“Tadi kamu bilang kamu dimintai
tolongnya dari mana?” kata satpam itu.
“Dari WA pak,”
“Gak ada namanya kah?”
“Gak ada pak, gak saya simpen
nomornya,” kataku.
“Coba lihat WA mu, saya mau coba
lihat dia dulu. Siapa tahu dari fotonya ada, kan?” katanya.
Aku memberikan hp-ku pada satpam
itu. Mereka melihat WA ku dan mencari ‘orang’ yang memintai tolong itu di WA
ku. Aku berusaha tenang. Lagi pula aku sudah menghapus beberapa chat personal
dengan beberapa orang.
“Yang jadi pertanyaan saya
sekarang ini, dari mana dia dapet nomor mu?” tanya satpam itu.
“Nah, itu dia pak, saya juga gak
tahu gimana caranya dia dapet,”
“Gimana caranya?”
“Gak tahu pak, orang beberapa
orang juga chat saya dan saya gak tahu mereka dapet nomor saya dari mana. Ini
contohnya pak,” kataku sambil memberikan salah satu chat yang dikirim padaku
yang ‘tidak mempunyai nama’ itu. Mereka melihatnya.
“ya udah, entar mungkin kami
panggil lagi. Sudah, kamu belajar sana,” kata satpam itu.
Aku membawa hpku lalu kembali.
“Gimana?” Kata Kiara.
“Santai,” kataku.
Saat itu, teleponku berdering.
‘Imam’ adalah nama yang tertulis sebagai penelpon saat itu. Saat aku
mengangkatnya, terdengar suara kakak kelasku yang lain, yang saat ini menduduki
kelas 12.
“Kris, kamu bilang kalo kak
Fajar ada di sini?” katanya.
“Nggak kak, secara tidak
sengaja, lebih tepatnya,”
“Tapi kamu bilang gak kalo dia
ada di unit kita?”
“Gak, saya gak bilang gitu,”
“Tapi kamu bilang dia ada di
lantai 18?”
“Iya, cuman itu aja.” Kataku.
“ya udah, entar kalo ditanyain
bilang aja dia cuman anterin makanan aja,” katanya.
“Siap,” kataku.
“Ya udah, pokoknya aktif WA,
oke?”
“Okey,” kataku menutup.
Saat aku membuka WA-ku, satu
pesan langsung datang.
“Kris, aku sudah di bawah,” tulis
pesan itu dengan headline bernama Kak Fajar.
Saat aku membacanya, di satu
sisi aku senang dan di satu sisi aku agak takut. Senang karena ia berhasil
turun ke lantai dasar. Takut karena takutnya ia dapat saja tertangkap oleh
satpam. Penasaran, Kiara mencoba melihat pesan teks itu. Ia melihatku seolah
tidak percaya juga bahwa bagaimana orang ini dapat turun tanpa diketahui satpam.
Ia berdiri lalu keluar dari ruangan multi fungsi itu. Ia meliha kekiri dan
kekanan lalu memanggilku.
“Kris, itu kah dia?” katanya
sambil menunjuk kakak kelas ku itu.
Aku pun penasaran. Akupun
keluar. Saat melihat orang yang ditunjuk, aku melihat kak Fajar yang sedang di
luar duduk dengan santai. Saat aku melihat ke belakang, di kejauhan terdapat
satpam yang memperhatikan kami.
“Masuk! Jangan nunjuk-nunjuk,
masuk sekarang,” bisikku pada Kiara.
Namun sayangnya ia agak lambat
mencerna kata-kata ku. Ia baru masuk setelah sekitar 1 menit mendengar itu.
“Ada satpam tadi, Kris.”
Katanya.
“Makanya tadi saya suruh kamu
masuk,” kataku.
Ia terdiam. Sambil sesekali
melihat satpam, kami mencoba mencari cara agar tas yang ada di meja satpam itu
tidak memiliki penjaga.
“Gimana kalo gini aja Kris,”
kata Kiara.
“Entar aku coba buat naik ke
lift, minta tolong ke pak satpam buat taping
liftnya. Nah, pas itu, kak Fajar langsung lari ambil tasnya,” lanjutnya.
Aku agak ragu dengan cara itu.
“Entahlah,” kataku.
Ia hanya melihatku. “Aku coba
ya,” katanya dengan mantap.
Ia keluar dan meminta tolong pak
satpam untuk taping pada liftnya.
Namun seperti yang ku duga, satpamnya tidak hanya satu saja. Namun dua. Saat
satu satpam taping pada lift itu,
satpam yang lain menggantikannya untuk menjaga.
“Gak bisa Kris,” tulis Kiara
pada pesan singkat WA padaku saat itu.
Aku hanya terdiam melihatnya,
“sudah kuduga.”
Beberapa menit kemudian, Kiara datang kembali dengan wajah yang
masih agak bingung. Seolah di wajahnya ia bingung bagaimana agar tas tersebut
dapat diambil kembali oleh kakak kelas ku itu. Aku sedikit berdiskusi dengannya
hingga tak terasa kami harus kembali ke asrama oleh karena waktu untuk berada
di luar sudah habis.
“Nak, ini tasnya saya bawa ke unit dorm parent ya, entar kalo mau di ambil, ambil
aja ke sana.” Kata pak satpam sambil menenteng tas biru itu.
“Oh, iya pak,” kataku sambil
membereskan barang-barangku.
Saat aku kembali ke unit
ku, salah satu kakak kelasku langsung menanyaiku. Aku berusaha menjawab sebisa
yang dapat ku jawab. Lalu ia sedikit menceritakan bagaimana kak Fajar dapat
lolos untuk turun.
Berikut ini adalah ceritanya.
“Monitor pak? Pak, monitor pak,
ada alumni yang datang ke lantai 18,”
Saat
itu terdengar, ada seorang kakak kelas juga, Kak Alif namanya, yang berada
dekat sana. Ia langsung berlari menuju lift dan secepat mungkin mencoba untuk
naik ke lantai 18, dan menuju unit ku.
“Jar,
sekarang kamu harus keluar atau sembunyi, satpam tahu kalo kamu ada di sini.
Buru!” kata Kak Alif dengan nada yang terburu-buru.
Beberapa
menit kemudian, seorang satpam dating dan mencari alumni ku itu.
“Mana
alumninya disini? Ada alumni disini? Mana Fajar?” Tanya satpam itu dengan nada
yang sedikit lebih keras.
“Lah,
Fajar di sini pak?” Tanya kak Alif seolah tidak tahu.
Ternyata
Kak Fajar sudah tidak ada di unit. Ia sudah bersembunyi di suatu tempat. Ia
bersembunyi di tangga darurat. Ia tidak menutup full tangga darurat itu. Ia
membukanya sedikit, karena jika itu tertutup full, maka pintu tersebut akan
terkunci otomatis. Di saat ini lah aku menelpon Imam.
“Kak
Fajar dimana kak?” tanya Rafli, teman seangkatan ku pada Kak Atha dengan nada
pelan.
“Gak
ada, gak ada dia!” kata kak Atha dengan nada yang kecil, sambil menggelengkan
kepalanya.
“Aduh,
udah aku bilang ada tadi ke pak satpamnya,” kata Rafli.
“Ya
udah, sekarnag bilang nggak ada,”
Rafli
keluar dan memberikan informasi bahwa kak Fajar tidak ada di unit.
Setelah
mendapat informasi itu, satpam itu keluar dari unit dan mencoba mencari di unit
lain. Dengan muka yang cuek dan seolah-olah sedang bermain game, kak Atha
mengikuti satpam keluar dari unit lalu pelan-pelan menuju unit lain.
Dengan
suara pelan, “kalian bilang apa soal kak Fajar?” kata kak Atha.
“Gak
tahu kak, kami bilangnya gak tahu,” kata salah satu anak yang berada di unit
tersebut.
“Sip,”
Setelah
satpam mencari, ia akhirnya turun. Di saat itulah mereka menanyaiku soal siapa
yang memintaiku tolong di saat Kiara datang ke ruangan multi fungsi.
“Mam,
coba lihat di lift, ada satpam gak?” Kata kak Atha kepada Imam.
Imam
langsung pergi ke lift dan mencari. Ternyata pak satpam sudah tidak ada di
lift. Ia memberikan sinyal kepada kak Atha agar langsung menyuruh kak Fajar
berlari dan turun melalui lift.
“Kak
Fajar, langsung aja entar ke lift teken LG. Langsung ke LG aja,” kata kak Atha.
Saat
itu, kak Fajar berhasil turun ke LG dengan selamat. Saat itulah ia mengirimiku
pesan bahwa ia dapat turun dengan selamat.
Tiba-tiba
pesan masuk ke dalam WA-ku.
“Kris,
tas ku udah ada di MH,” kata Kak Fajar di pesan itu.
Aku
langsung kaget. Bagaimana caranya tas itu ada di sana, di saat aku melihat
satpam sudah membawanya naik ke unit dorm parent.
Aku
mencoba untuk mengklarifikasikannya. “Beneran kak? Tadi saya lihat gak
satpamnya udah bawa ke unit dorm parent
lho.”
“nggak
lho, ada disini kok tasku,” balasnya.
“Tas
biru kan? Ada tas kreseknya kan di tasnya?” Aku masih tidak percaya.
“Iya,
tapi ada di sini dia tas saya itu,”
“Serius
kak?”
“Iya
lho, tasku ada di sini, gak apa-apa. Entar aku cari cara buat ambil tasnya,” ia
menutup.
Aku
merasa agak lega, karena aku tidak perlu bersusah payah mencari cara untuk
mengambil tas itu dari unit dorm parent.
Sekitar
10 menit kemudian, satu pesan masuk kembali ke dalam WA ku.
“Tasnya
udah aman, aku sudah ambil tasnya, pak satpamnya gak tanya apa-apa ke aku,”
bunyi pesan yang di kirim kak Fajar.
Kali
ini, aku benar-benar lega membaca pesan itu. “Siap, terima kasih sudah
mengikuti drama ini, selamat beristirahat, dan selamat malam,” tutupku pada
pesan WA.
nice.. ikut deg-deg-an juga bacanya :v
BalasHapusEeehh? :v
HapusThank you :v
wkwk~ sip! ^^
BalasHapus